Real-time Earth and Moon phase

Sabtu, 24 November 2012

fungsi filsafat pendidikan


KRITISAN FUNGSI FILSAFAT PENDIDIKAN
DARI BERBAGAI SUMBER
Prof Brubacher dalam buku “Modren Philosphies of education” menulis tentang fungsi filsafat pendidikan secara terinci, dan pokok pemikirannya tentang fungsi filsafat pendidikan, yang akan dibahas berikut ini :
1.      Fungsi Spekulatif       
Filsafat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba merumuskannya dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-data yang telah ada dari segi ilmiah. Filsafat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan antar hubungannyadengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan.
Dari apa yang telah di jelaskan oleh Brubacher mengenai fungsi filsafat pendidikan yang pertama yang mengacu terhadap pemecahan persoalan atau problamatika-problamatika pendidikan yang bersifat filosofis yang  memerlukan jawaban yang filosofis pula. Di samping itu, filsafat pendidikan dapat pula di dekati dari ide-ide filosofis yang di terapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan.[1]
2.      Fungsi Normatif
Sebagai penentu arah, pedoman untuk apa pendidikan itu. Asas ini tersimpul dalam tujuan pendidikan, jenis masyarakat apa yang ideal yang akan dibina. Khususnya norma moral yang bagaimanasebaiknya yang manusia cita-citakan. Bagaimana filsafat pendidikan memberikan norma dan pertimbangan bagi kenyataan-kenyataan normatif dan kenyataan-kenyataan ilmiah, yang pada akhirnyamembentuk kebudayaan.
3.      Fungsi Kritik
Terutama untuk memberi dasar bagi pengertian kritis rasional dalam pertimbangan dan menafsirkan data-data ilmiah. Misalnya, data pengukuran analisa evaluasi baik kepribadian maupu nachievement (prestasi). Fungsi kritik bararti pula analisis dan komparatif atas sesuatu, untuk mendapatkesimpulan. Bagaimana menetapkan klasifikasi prestasi itu secara tepat dengan data-data obyektif (angka-angka, statistik). Juga untuk menetapkan asmsi atau hipotesa yang lebih resonable. Filsafat haruskompeten, mengatasi kelemahan-kelemahan yang ditemukan bidang ilmiah, melengkapinya dengan datadan argumentasi yang tak didapatkna dari data ilmiah.
4.      Fungsi Teori dan Praktek
Semua ide, konsepsi, analisa dan kesimpulan-kesimpulan filsafat pendidikan adalah berfungsiteori. Dan teori ini adalah dasar bagi pelaksanaan/praktek pendidikan. Filsafat memberikan prinsip- prinsip umum bagi suatu praktek.
5.      Fungsi Integratif
Mengingat fungsi filsafat pendidikan sebagai asa kerohanian atau ronya pendidikan, maka fungiintegratif filsafat pendidikan adalah wajar. Artinya, sebagai pemadu fungsional semua nilai dan asasnormatif dalam ilmu pendidikan (ingat, ilmu kependidikan sebagai ilmu normatif). Dalam mengkaji peranan filsafat pendidikan, dapat ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu metafisika, epistimologi, dan aksiologi (Usiono:2006:98-99).
Jika kita ingin menkaji peranan  atau fungsi filsafat pendidikan, dapat ditinjau dari tiga lapangan filsafat yaitu, metafisika, epistimologi, dan aksiologi.
a.        Metafisika dan Pendidikan
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan. Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia :
1)      Manusia adalah makhluk jasmani rohani
2)      Manusia adalah makhluk individual sosialü
3)      Manusia adalah makhluk yang bebas
4)      Manusia adalah makhluk menyeluruh
Metafisika merupakan bagian dari filsafat yang mempelajari masalah hakikat ; hakikat dunia,hakikat manusia,termasuk di dsalam nya hakikat anak.Mempelajari metafisika bagi filsafat pendidikan diperlukan untuk mengontrol secara implisit tujuan pendidikan,untuk mengetahui bagaimana dunia anak,apakah ia merupakan mahkluk rohani atau jasmani saja,atau keduanya. Metafisika memiliki implikasi-implikasi pentinguntuk pendidikan karena kurikulum sekolah berdasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai realitas.Dan apa yang kita ketahui mengenai realitas itu di kendalikan/didorong oleh jenis-jenis pertanyaan yang di ajukan mengenai dunia.Pada kenyataan nya,setiap posisi yang berkenaan dengan apa yang harus di ajarkan sekolah di belakangnya memiliki suatu pandangan realitas tertentu,sejumlah respons tertentu pada pertanyaan-pertanyaan metafisika (Usiono:2006:100). Metafisika terbagi dua , yaitu :
b.      Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kuasa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono:2007:144).
Obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan hal tersebut,  maka dapat dikatakan bahwa obyek formal dari ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Hal senada juga dilontarkan oleh Jujun Suriasumantri, bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada (Jujun S. Suriasumantri:2003:34).
c.       Epistemologi dan pendidikan
Kumpulan pertanyaan berikutnya yang berhubungan dengan para guru adalah epistimologi. Pertanyaan-pertanyaan ini semuanya terfokus pada pengetahuan: Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung?. Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah  kebenaran  itu konstan, ataukah Kebenaran itu berubah dari situasi satu ke situasi lainnya? Dan pada akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?
d.       Akisologi dan Pendidikan
Akisologi sebagai cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah (jelek), erat berkaitan dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalui dipertimbangkan, atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan perbuatan pendidikan. Brubacher mengemukakan tentang hubungan antar asikologi dengan pendidikan.
Selaras dengan dasarnya yang spekulatif,  maka filsafat menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir filsafat mempermasalahkan hal-hal yang pokok; terjawab masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lain. Tentu saja tiap zaman mempunyai masalah yang merupakan mode pada waktu itu.
Pokok permasalahan yang dikaji filsafat  mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada; tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika; dan kedua, politik; yakni kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal. Kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik di antaranya filsafat pendidikan. Cabang-cabang filsafat antara lain: 1) Epistemologi (filsafat pengetahuan), 2) etika (filsafat moral), 3) estetika (filsafat seni), 4) metafisika, 5) politik (filsafat pemerintahan), 6) filsafat agama, 7) filsafat ilmu, 8) filsafat pendidikan, 9) filsafat hukum, 10) filsafat sejarah, 11) filsafat matematika ((Jujun S Suriasumantri:1990:32).[2]
Apabila kita mencoba mengerti persoalan-persoalan pendidikan seperti akan yang nyata di bawah ini, bahwa analisa persoalan tidak mungkin semata-mata melalui analisa ilmiah. Sebab masalahnya memang masalah filosofis, misalnya meliputi :
a.   Apakah pendidikan  itu bermanfaat ?  guna membina kepribadian manusia, atau tidak?. Apakah potensi-hereditas yang menentukan kepribadian ataukah faktor-faktor luar (alam sekitar dan pendidikan)? Mengapa anak yang potensi hereditasnya relatif baik, tanpa pendidikan dan lingkungan yang baik tidak mencapai perkembangan kepribadian sebagaimana diharapkan. Sebaliknya, mengapa seorang anak yang abnormal, potensi-hereditasnya relatif rendah, meskipun didik dengan positif dan lingkungan yang baik, tak akan berkembang normal.
b.  apakah tujuan pendidikan itu ? Apakah pendidikan itu guna individu sendiri, atau untuk kepentingan sosial?, apakah pendidikan itu dipusatkan bagi pembinaan manusia pribadi, ataukah untuk masyarakatnya? Apakah pembinaan pribadi manusia itu demi hidup yang real dalam masyarakat dan dunia ini ? ataukah bagi kehidupan akherat yang kekal.
c.   untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal, apakah isi pendidikan (curriculum) yang diutamakan yang relevan dengan pembinaan kepribadian sekaligus kecakapan memangku suatu jabatan di dalam masyarakat. Apakah curriculum yang luas dengan konsekuensi kurang intensif ataukah dengan curriculum yang terbatas tetapi intensif penguasaannya sehingga praktis.
d.                bagaimana atas penyelenggaraan pendidikan yang baik, sentralisasi atau desentralisasi dan otonomi, oleh negara ataukah oleh swasta. Apakah dengan leadership yang instruktif ataukah secara demokratis. Bagaimana metode pendidikan yang efektif membina kepribadian baik teoritis-ilmiah, kepemimpinan, maupun moral dan aspek-aspek sosial dan skill yang praktis. Filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat Islam pada khususnya adalah bagian dari ilmu filsafat, maka dalam mempelajari filsafat pendidikan perlu memahami terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dengan hubungannya dengan masalah pendidikan khususnya pendidikan Islam (Zuhairini:1994:32).[3]
Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu.
Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik). Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata.artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.
Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
Peranan pendidikan di dalam kehidupan  manusia, lebih-lebih dalam zaman modern ini diakuisebagai sesuatu kekuatan yang menentukan prestasi dan produktivitas seseorang. Tidak ada suatu fungsidan jabatan di dalam mesyarakat tanpa melalui proses pendidikan. Seluruh aspek kehidupan memerlukan proses pendidikan dalam arti demikian, terutama berlangsung di dalam dan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal (sekolah, universitas). Akan tetapi scope pendidikan lebih daripadanya hanya pendidikan formal itu. Di dalam masyarakat keseluruhan terjadi pula proses pendidikan kembangankepribadian manusia. Proses pendidikan yang berlangsung di dalam kehidupan sosial yang disebut pendidikan informal ini, bahkan berlangsung sepanjang kehidupan manusia.
Meskipun pengaruh pendidikan informal ini tak terukur dalam perkembangan pribadi, tapi tetapdiakui adanya. Secara sederhana misalnya, orang yang tak pernah mengalami pendidikan formal, merekayang buta huruf, namun mereka tetap dapat hidup dan melaksanakan fungsi-fungi sosial yang sederhana.Alam dan lingkungan sosial serta kondisi dan kebutuhan hidup telah mendidik mereka. Akan tatapi, yang paling diharapkan ialah pendidikan formal yang relatif baik, dilengkapi dengan suasana pendidikaninformal yang relatif baik pula. Ini ternyata dari usaha pemerintah, pendidik dan para orang tua untuk membina masyarakat keseluruhan sebagai satu kehidupan yang sehat lahir dan batin. Sebab, krisisapapun yang terjadi di dalam masyarakt akan berpengaruh negatif bagi manusia, terutama anak-anak,genarasi muda.
Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.
Scope dan peranan pendidikan dalam arti luas seperti dimaksud diatas, dilukiskan oleh Prof.Richey dalam buku “Planning for Teaching, an Intriduction to Educatiomn”,  antara lain sebagai berikut: Istilah “pendidikan” berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikankehidupan suatu masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam  masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktifitas sosial yang efensial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang.  Di dalam masyarakat yang kompleks/modern,fungsi pendidikan ini mengalamai proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolahFilsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang bekerja didalamnya. Hal tersebut akan  mewarnai perbuatan  mereka secara arif dan bijaksana, menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dengan falsafah umum, falsafah bangsa dan  negara. Pemahaman akan filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Apabila kita mencoba mengerti persoalan-persoalan pendidikan seperti akan nyata dibawah ini, mengertilah kita bahwa analisa ilmiah. Sebab masalahnya memang masalah filosofis, misalnya meliputi:
a.   Apakah pendidikan itu bermanfaat, atau mungkin berguna membina kepribadian manusia atau tidak. Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian ataukah faktor-faktor luar (alam sekitar dan kpribadian)
b.  Mengapa anak yang potensinya hereditasnya relatif baik, tanpa pendidikan dan lingkungan yang baik tidak mencapai perkembangan kepribadian sebagaimana yang diharapkan. Sebaliknya, mengapa seoraang anak abnormal, potensi-hereditasnya relatif rendah, meskipun di didik dengan positif dan lingkungan yang baik, tak akan berkembang normal.
c.   Apakah tujuan pendidikan itu sesungguhnya. Apakah pendidikan itu berguna untuk individu sendiri, atau untuk kepentingan sosial, apakah pendidikan itu dipusatkan untuk pembinaan manusia pribadi, apakah untuk masyarakat.
d.                Apakah hakikat masyarakat itu, dan bagaimana kedudukan individu di dalam masyarakat, apakah pribadi itu independent ataukah dependent di dalam masyarakat.
e.   Apakah hakikat pribadi itu, manakah yang utama untuk dididik, apakah ilmu, intelek atau akalnya, ataukah kemauannya.
f.   Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik, sentralisasi atau desentralisasi dan otomi, oleh negara ataukah oleh swasta. Apakah dengan kepemimpinan yang instruktif ataukah secara demokratis.
g. Bagaimana metode pendidikan yang efektif untuk membina kepribadian.

Tiap-tiap pendidik seogianya mengerti bagaimana jawaban-jawaban yang tepat atas problema di atas, sehingga dalam melaksanakan fungsinya akan lebih mantap. Mereka yang memilih propesi keguruan sepantasnya mengerti latar belakang kebijaksanaan strategi dan politik pendidikan pada umumnya, khususnya pelaksanaan sistem pendidikan nasional yang menjadi tanggung jawabnya. Asas kesadaran kebenaran-kebenaran dari jawaban tersebut merupakan prinsip-prinsip yang pudamental untuk keberhasilan tugas pendidikan. Dengan mengerti asas-asas dan nilai filosofis itu dan mendasarkan segenap pelaksanaan pendidikan menjadi norma-norma pendidikan. Filsafat pendidikan dengan demikian merupakan asas normatif di dalam pendidikan, yaitu norma-norma yang berlaku di dalam dunia pendidikan.



[1] http://mjulijanto.wordpress.com/2010/05/19/pengantar-filsafat-pendidikan/
Diposkan oleh Rudi Al-Fakir di 04:31



[1] Achmad dardiri, problematika filsafat pendidikan (handout filsafat pendidikan)
[2] Rudi alfakri, peranan filsafat pendidikan (blog)
[3] Rudi alfakri, peranan filsafat pendidikan ( blog) (Zuhairini:1994:32)

1 komentar: